Menapakkan kaki ditanah budaya yang masih subur

5 September 2018, kumenapakkan kaki ditanah pasundan ini, ditemani oleh segelas coklat panas dan melihat awan yang cerah dan langit yang sangat menampakkan keindahannya, dimulai dipagi hari, aku bersiap untuk melakukan perjalanan dihari ini, kelas feroz akan mengunjungi satu kampung di daerah cimahi, yang bernama kampung Cireundeu. Katanya kampung ini sangat erat dengan budaya yang mereka punya, dan ahkirnya kakak memberi amanat untuk kita menjelajahi kampung tersebut. Aku langsung mengunjungi base pertama untuk kumpul kelas, yaitu di sate shinta jalan pasteur. Sesampainya disana, setelah berkumpul semua, kami melakukan briefing pertama untuk tugas pertama kami, kami ditugaskan untuk menuju kampung Cireundeu menggunakan angkot, kami ahkirnya bergegas untuk mengejar waktu yang sudah diberikan oleh kakak. Setelah sampai, kami baru sadar, perjalanan yang kami tempuh ternyata sangat menguras waktu, perjalanan yang kami tempuh sekitar 1 setengah jam. Disana kulihat perkampungan yang si lilit oleh keberadaan alam, banyak pohon hijau, ruang terbuka hijaunya yang sangat luas, jika dilihat dari data, kampung Cireundeu mempunyai luas 64 hektar, namu mengejutkannya, 4 hektar untuk pemukiman dan 60 hektarnya sebagai ruang terbuka hijau. Setelah berkumpul tiba” kakak menghampiri kami dan mengajak kami semua untuk mengunjungi sebuh balai desa untuk bertemu seseorang, dan ahkirnya setelah sampai disana kami disambut kang Tri, ia adalah orang asli kampung Cireundeu. Dibalai desa , kami berbincang serta bertanya” kepada kang Tri tentang apa saja yang ada di kampung Cireundeu. Setelah ngobrol sekitar satu jam, kami diajak kang Tri untuk menaiki salah satu puncak dikampung Cireundeu yaitu puncak salam, namun kami terkaget- kaget karena kami harus menaiki puncak salam tanpa menggunakan alas kaki, mungkin terdengar aneh bagi teman” yang lain, tapi karena aku udah biasa nyeker jadi dengernya biasa dan malah menjadi tantangan karena pertama kali naik gunung tanpa alas kaki. Setelah naik gunung itu aku merasakan, aku bisa merasakan feel alam yang mengikutiku. Aku bisa bersetubuh dengan alam dan menyatu jiwanya dengan alam, disana aku semakin menjadi respek dengan keberadaan alam didunia ini. Setelah itu biasa kami melakukan liputan khusus, kami wawancara warga untuk mencari data yang nantinya akan diubah menjadi sebuah majalah. Setelah semuanya selesai, kami semua langsung bergegas untuk pulang dan berpamitan dengan kang Tri karena waktunya terbatas dan kelas feroz harus pulang kesekolah. Dan ahkirnya kami pulang menggunakan angkot. Satu refleksi yang saya dapat disana adalah tentang alam, bahwa dibumi ini alam sudah tercemar oleh aktivitas manusia, kita jangan hanya mempunyai rasa simpati. Tapi kita juga harus ada rasa empati untuk menjaga alam dibumi ini. Saya Bimo saya ingin para generasi nanti menikmati alam yang sekarang kurang dijaga

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s